Mengenal Jenis Tes Kepribadian dalam Rekrutmen Kerja: DISC, EPPS, dan Big Five
Jenis tes kepribadian dalam rekrutmen kerja sering membuat pelamar bingung karena tidak ada jawaban benar atau salah seperti soal matematika. Padahal, memahami berbagai jenis tes kepribadian justru membuatmu lebih tenang saat menghadapinya. Perusahaan menggunakan tes ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memetakan kecenderungan perilaku, gaya kerja, dan kesesuaianmu dengan budaya serta posisi yang dilamar. Tiga pendekatan yang paling sering disebut dalam dunia rekrutmen adalah DISC, EPPS, dan Big Five.
Artikel ini menjelaskan secara umum apa yang diukur oleh masing-masing pendekatan tes kepribadian, mengapa perusahaan memakainya, dan bagaimana sikap terbaik saat menghadapinya. Pembahasan ini bersifat edukatif dan tidak mereproduksi item soal berhak cipta dari instrumen mana pun. Tujuannya sederhana: agar kamu masuk ruang tes tanpa salah paham, menjawab dengan jujur, dan menampilkan dirimu apa adanya secara konsisten.
Mengapa Perusahaan Menggunakan Tes Kepribadian
Sebelum membahas jenis tes kepribadian satu per satu, penting memahami alasan di baliknya. Wawancara singkat dan CV tidak selalu cukup untuk menebak bagaimana seseorang bekerja di bawah tekanan, berkolaborasi dalam tim, atau merespons konflik. Tes kepribadian memberi gambaran yang lebih terstruktur tentang kecenderungan perilakumu, sehingga perekrut bisa menilai kecocokan dengan tuntutan peran, misalnya posisi penjualan yang butuh ketegasan atau posisi analis yang butuh ketelitian.
Hasil tes biasanya tidak berdiri sendiri. Perusahaan memadukannya dengan wawancara, tes kemampuan, dan rekam jejak. Karena itu, anggapan bahwa satu tes kepribadian bisa langsung meloloskan atau menggugurkanmu umumnya keliru. Hasil ini lebih sering dipakai sebagai bahan diskusi dan konfirmasi, bukan vonis tunggal. Memahami hal ini membantumu menurunkan kecemasan yang sering kali justru merusak performa.
Perlu juga ditegaskan bahwa tidak ada profil kepribadian yang secara universal 'lebih baik' daripada yang lain. Yang dicari perusahaan adalah kecocokan, bukan keunggulan absolut. Posisi yang berbeda menuntut kecenderungan yang berbeda pula, dan justru keberagaman profil di dalam tim sering kali menjadi kekuatan. Dengan memahami kerangka berpikir ini, kamu bisa menghadapi tes kepribadian sebagai sarana saling mengenal antara kamu dan perusahaan, bukan sebagai ujian yang harus dimenangkan dengan cara apa pun.
DISC: Memetakan Gaya Perilaku Kerja
DISC adalah pendekatan yang memetakan kecenderungan perilaku ke dalam empat dimensi besar: Dominance (dominasi atau ketegasan dalam mengejar hasil), Influence (pengaruh dan kemampuan menjalin hubungan), Steadiness (kestabilan, kesabaran, dan konsistensi), serta Conscientiousness (kepatuhan pada standar, ketelitian, dan kehati-hatian). Tidak ada profil yang lebih unggul secara mutlak; tiap kombinasi punya kelebihan dalam konteks yang berbeda.
Dalam rekrutmen, DISC sering dipakai untuk melihat apakah gaya kerjamu selaras dengan peran. Seseorang dengan kecenderungan Dominance dan Influence yang tinggi mungkin cocok untuk peran yang menuntut inisiatif dan komunikasi aktif, sementara profil Steadiness dan Conscientiousness yang kuat sering pas untuk pekerjaan yang menuntut kestabilan dan presisi. Saat mengisi instrumen bergaya DISC, jawablah sesuai cara kerjamu yang sebenarnya, bukan versi ideal yang kamu kira diinginkan perusahaan.
EPPS: Mengukur Kebutuhan dan Motivasi
EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) adalah pendekatan yang berfokus pada kebutuhan atau dorongan psikologis seseorang, misalnya kebutuhan untuk berprestasi, untuk teratur, untuk memimpin, untuk afiliasi atau bersahabat, hingga kebutuhan untuk mandiri. Yang khas dari instrumen bergaya EPPS adalah formatnya yang sering memaksa peserta memilih satu dari dua pernyataan yang sama-sama terdengar masuk akal, sehingga sulit untuk sekadar menebak jawaban yang dianggap 'bagus'.
Format pilihan paksa ini sengaja dirancang untuk mengurangi kecenderungan menjawab demi kesan baik. Karena itu, strategi terbaik bukan mencari celah, melainkan menjawab dengan konsisten berdasarkan prioritas dirimu yang sebenarnya. Jika kamu mencoba memoles jawaban di sana-sini, hasilnya justru bisa terlihat tidak konsisten dan menimbulkan keraguan. Mengenal jenis tes kepribadian seperti EPPS membantumu memahami bahwa kejujuran adalah strategi yang paling aman.
Big Five: Lima Dimensi Besar Kepribadian
Big Five, kadang disebut model OCEAN, adalah salah satu kerangka kepribadian yang paling banyak digunakan dalam penelitian psikologi. Kelima dimensinya adalah Openness (keterbukaan pada pengalaman dan ide baru), Conscientiousness (kehati-hatian dan keteraturan), Extraversion (kecenderungan bersosialisasi dan energi sosial), Agreeableness (keramahan dan kerja sama), serta Neuroticism atau kebalikannya, stabilitas emosi. Setiap orang berada di suatu titik pada rentang masing-masing dimensi, bukan satu kategori kaku.
Kekuatan Big Five terletak pada landasan risetnya yang kuat dan sifatnya yang menggambarkan rentang, bukan label hitam-putih. Dalam konteks kerja, dimensi seperti Conscientiousness sering dikaitkan dengan keandalan menyelesaikan tugas, sementara stabilitas emosi berkaitan dengan ketahanan menghadapi tekanan. Sekali lagi, tidak ada skor 'sempurna' yang berlaku universal; yang dicari adalah kesesuaian antara profilmu dan kebutuhan peran tertentu.
Karena ketiga pendekatan ini berbeda fokus, perusahaan kadang menggabungkan lebih dari satu untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh. DISC menyoroti gaya perilaku yang tampak, EPPS menggali motivasi yang mendasarinya, dan Big Five memberi peta sifat yang luas dan teruji secara ilmiah. Tidak perlu menghafal seluk-beluk tiap model; cukup pahami bahwa semuanya berupaya mengenali siapa dirimu sebenarnya. Justru di situlah letak strategi terbaik: tampil konsisten sebagai dirimu di hadapan kerangka apa pun yang digunakan.
Sikap Terbaik Saat Menghadapi Tes Kepribadian
Setelah mengenal jenis tes kepribadian di atas, prinsip menghadapinya sebenarnya serupa. Pertama, jawab dengan jujur dan konsisten; banyak instrumen punya cara mendeteksi jawaban yang dipoles berlebihan. Kedua, jangan terlalu lama menimbang tiap butir, karena tes ini mengukur kecenderungan spontan, bukan jawaban yang dihitung matang. Ketiga, istirahat cukup sebelum tes agar kondisimu stabil dan tidak salah membaca pernyataan karena lelah.
Keempat, pahami bahwa tujuanmu bukan 'memenangkan' tes, melainkan menemukan tempat kerja yang benar-benar cocok denganmu. Memaksakan diri tampil sebagai sosok yang bukan dirimu mungkin meloloskanmu sesaat, tetapi berisiko membuatmu tidak nyaman dalam pekerjaan yang ternyata tidak sesuai. Latihan mengerjakan psikotes bergaya rekrutmen juga membantumu terbiasa dengan format dan tekanan waktu, sehingga kamu bisa fokus pada substansi, bukan pada kepanikan.
Berlatih agar Lebih Siap dan Tenang
Memahami teori saja tidak cukup; kamu perlu membiasakan diri dengan suasana mengerjakan psikotes secara nyata. Kerjakan latihan psikotes kerja di Siapin melalui /ujian/psikotes-kerja agar terbiasa dengan ragam soal kepribadian dan kemampuan, lalu pelajari pembahasannya untuk memahami logika di balik setiap bagian. Dengan begitu, saat hari tes tiba, energimu bisa kamu arahkan untuk menjawab dengan jujur, bukan untuk menebak-nebak format.
Jika kamu ingin mencobanya tanpa biaya lebih dulu, mulai dari paket gratis di /coba-gratis untuk merasakan alur latihannya. Perlu diingat, hasil latihan adalah gambaran kesiapan, bukan penilaian resmi dari perusahaan mana pun. Namun sebagai sarana melatih ketenangan dan mengenali kecenderungan dirimu, latihan rutin ini sangat berharga untuk menghadapi tahap psikotes dalam rekrutmen kerja.
Uji strategimu di try out Psikotes Kerja full-length
6 try out · 636 soal · 1 kelas · 1 flipbook. Timer seperti ujian asli, pembahasan tiap soal, dan posisimu dibanding peserta lain.
Paket Lengkap Psikotes Kerja Rp349.000Rp99.000 · bayar sekali, akses 1 tahun
Tim penyusun materi dan bank soal Siapin. Menulis panduan persiapan ujian berdasarkan kisi-kisi resmi dan data latihan peserta.